Senin, 15 Agustus 2011

AL QUR'AN DAN PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI

Ketika buku La Bible, La Coran, et la Science karya Dr. Maurice Bucaille, seorang dokter ahli bedah di Perancis terbit dan diterjemahkan dalam beberapa bahasa; Inggris, Arab, Turki, Serbo-Croat dan Indonesia, sejumlah kalangan muslim terhenyak kagum dan sekaligus terhibur. Al-Quran bukan saja fasih berbicara tentang surga, neraka, pahala, siksa dan dimensi-dimensi lain non-material, tetapi juga tentang banyak penemuan ilmiah mutakhir yang belum pernah tersentuh. Ayat-ayat al-Quran seakan-akan mempunyai makna baru yang benar-benar sesuai dengan dinamika ilmu pengetahuan modern, sekalipun premis ini tentu tidak benar; karena al-Quran memang sarat berisi pengetahuan super modern yang memerlukan rasio penalaran ganda untuk membongkarnya.
Dalam sebuah paragrap tulisannya, Bucaille mengkritik para mufasir yang menterjemahkan ayat-ayat secara salah karena tidak memiliki disiplin pengetahuan ilmiah tertentu yang diperlukan untuk memahami arti yang sebenarnya. Menurut Bucaille, hal itu disebabkan oleh tradisi para mufasir yang sering dianggap sangat berwenang, walaupun mereka tidak memiliki pengetahuan ilmiah. Gaya tafsir itu dapat dilihat dalam tafsir-tafsir kelasik yang memasung kretifitas penafsiran baru dan hanya menitik beratkan pada persoalan-persoalan keagamaan secara an sich. Para ahli tafsir kelasik telah gagal dalam menguraikan makna ayat-ayat yang berhubungan dengan alam, yang dalam tradisi keilmuan disebut tafsir ilmi.
Kritikan Bucaille itu bukannya tidak menuai kecaman dari sejumlah cendekiawan muslim. Secara tegas Dr. Ziauddin Sardar menolak upaya mengilmiahkan ayat-ayat al-Quran yang disesuaikan dengan rasio empirik. Sebab jika suatu ayat ditarik paksa untuk menunjang suatu teori ilmiah, yang terjadi adalah penafsiran ilmu pengetahuan oleh al-Quran dan bukannya ilmu pengetahuan menafsirkan al-Quran. Akibatnya jika teori keilmuan itu jatuh, maka jatuh pula nilai kesucian ayat al-Quran. Kebenaran al-Quran adalah kebenaran mutlak, sedangkan kebenaran ilmiah adalah bersifat nisbi, karenanya selalu berubah mengikuti dinamika perubahan jaman.
Kehebatan al-Quran dengan sifat ‘ijaz-nya selalu menarik orang lain untuk berkomentar. Jauh sebelumnya, Dr. Hartwig Hirschfel dari Inggris secara simpatik mengatakan; kita tidak usah terkejut menyaksikan sumber ilmu pengetahuan dalam al-Quran. Setiap subjek yang ada di dalamnya, berhubungan dengan langit atau bumi, kehidupan manusia, perniagaan dan berbagai bentuk perdagangan juga terkadang disinggung; semua ini memberi ransangan munculnya berbagai risalah ilmu pengetahuan.
Hal sama disampaikan Robert Briffautl; ia mengatakan; al-Quran bukan hanya menghimbau pemikiran serta penyelidikan alam semesta secara umum. Ia berbuat jauh lebih banyak dengan memberikan tuntunan mengenai metode penataran induktif, untuk memberikan prinsip-prinsip pokok mencakup kesatuam alam, kesatuan umat dan kesatuan ilmu. Masih banyak para pemikir non-muslim yang apresiatif terhadap al-Quran. Tetapi, menurut Fazlurrahman Ansari, satu literatur keagamaan yang suci ini sering kali kita timbun di bawah gramatika dan retorika sehingga jarang diajarkan sesuai tuntutan yang ada di dalamnya, karena takut bahwa kajian yang bermakna atas al-Quran dapat mengacaukan status quo, bukan saja dalam ranah pendidikan dan teologi tetapi juga di bidang sosial. Kebenaran ajaran al-Quran harus ditransformasikan secara riil oleh umat ini guna membuktikan kredo mereka sebagai umat pilihan.
*****
Peristiwa di Gua Hira` yang terjadi pada abad ke 7 menandai titik awal pembangunan dunia baru. Hal ini dimulai dengan kehadiran informasi dari alam lain yang telah lama terhenti hingga mengakibatkan kacaunya tatanan dunia. Perintah membaca (al-Alaq: 1-5) yang disampaikan Jibril kepada Muhammad saw adalah gabungan dua dimensi antara science dan keyakinan, eksoteris dan esoteris; yang satu (iqra`/membaca) menjadi dasar terbentuknya manusia berbudaya yang mengarah pada kemajuan ilmu pengetahuan, dan yang lain (bi-ismi rabbik al-lazii khalaq/ pengenalan pada Tuhan) mengarah pada terbentuknya keyakinan akan wujud dan kekuasaan Tuhan sebagai pengatur alam. Turunnya wahyu pertama ini kemudian diikuti dengan turunnya wahyu-wahyu yang lain secara bertahap selama 23 tahun lebih. The sun just rise on the Mecca, dunia telah menemukan sinar yang membawanya menuju peradaban baru.
Bertolak dari realitas historik itu maka tidak salah jika dikatakan Al-Quran adalah Kitab informasi (an-Naba`), dan sistim informasi yang di bangun oleh al-Quran adalah berdasar fakta dan keyakinan. Fakta diperlukan untuk menggali informasi lebih jauh dan mendalam, keyakinan berfungsi untuk mendasari kebenaran; dua hal itu menjadi ciri utama kebenaran dalam sistim informatika yang dikembangkan pada abad modern ini. Kita sering mendengar istilah informasi menyesatkan, istilah itu digunakan untuk menyebut adanya informasi yang salah dan tidak bertanggungjawab, dalam istilah komunikasi disebut rumors.
Kisah tentang ‘perselingkuhan’ Aisyah dan Shafwan bin Muatthal yang dihembuskan orang-orang Yahudi Madinah yang terkenal dengan hadits al-ifki (an-Nuur: 11-12) adalah salah satu contoh informasi tidak bertanggungjawab atau tepatnya disebut rumor yang bertujuan mengacaukan stabilitas sosial-politik di kota itu. Sebaliknya informasi yang disampaikan Hud-hud tentang imperium Saba` dengan Bulqis sebagai penguasanya (an-Naml: 22-24) menunjukkan kebenaran informasi itu secara empirik. Kedua contoh tersebut menunjukkan dua karakter yang berbeda dan menjadi ciri-ciri informasi yang berkembang dewasa ini; yang satu konstruktif dan yang lain destruktif. Kedua jenis informasi ini akan selalu muncul seiring dengan silang kepentingan antar individu, antar kelompok atau bahkan antar bangsa. Pengembangan informasi memerlukan etika untuk mengendalikan kemungkinan terjadinya manipulasi data atau distorsi pesan-pesan yang di bawa.
*****
Sedikitnya terdapat tiga tema pokok yang menjadi bahasan penting di dalam sistim informasi al-Quran, yaitu; pertama, masalah akidah atau keimanan; kedua, masalah hukum; ketiga, masalah ilmu dan pengetahuan. Masing-masing tema pokok ini memiliki cabang permasalahan yang dapat dikembangkan dengan berbagai disiplin keilmuan. Dari ketiga tema pokok informasi ini di antaranya ada yang baku serta tidak dapat dikembangkan dan ada pula yang dapat dikembangkan mengikuti kebutuhan perilaku jaman. Masalah akidah adalah satu-satunya masalah baku yang tidak memerlukan campurtangan manusia sehingga tidak dapat dirubah atau dikembangkan.
Pengertian ayat; Allahu laa ilaaha illa huwa al-hayyu al-qayyuum (al-Baqarah: 255) adalah bermakna definitif yang tidak dapat diberi arti lain di luar sifat Allah yang Maha Hidup dan Berdiri sendiri. Kedua jenis informasi ini tidak dapat dikembangkan sehingga keluar dari frame yang telah ditentukan secara qath’i. Berbeda dengan ayat; innamaa harrama ├ílaikum al-maitah wa al-daam wa lahm al-hinziir.. (al-Baqarah: 173), sekalipun ayat ini bermakna definitif yang memberi informasi penetapan akan keharaman beberapa jenis objek itu, tetapi penetapan hukumnya masih dapat diperluas menyangkut jenis-jenis objek lain yang tidak patut dikonsumsi manusia.
Begitu pun dengan ayat-ayat yang berisi dorongan dan rangsangan pada manusia untuk berfikir jauh, semisal; inna fii khalqi al-samaawaat wa al-ard wa-khtilaaf al-laili wa al-nahaar la-aayaatin li-uli al-baab (Ali Imran: 190). Ayat ini selain mengandung pengertian informatif, dapat dijadikan titik tolak untuk mengembangkan fungsi penalaran terhadap resources alam dengan segala jaringan yang ada di dalamnya. Dari penalaran itu akan menghasilkan rekayasa teknologi yang dapat dikembang-biakkan terus menerus sesuai perjalanan waktu dan jamannya. Tepat sekali kata Muhammad Iqbal, Al-Quran adalah Kitab yang mengutamakan amal dari pada cita-cita, karena itu menurut al-Gazali, mentafakuri al-Quran, akan membawa kita menuju samudera af’al yang tidak bertepi.
*****
Saat ini sistim informasi telah menjadi penentu yang dominan terhadap kekuatan sebuah bangsa, semakin luas jaringan informasi yang dibangun, maka semakin luas pula hegemoni yang dikuasai. Jepang adalah salah satu contoh negara yang mengandalkan jaringan informasi, yang tingkat kemajuan setara dengan negara-negara barat. Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II membuat struktur dan fasilitas industri negara ini hancur. Tetapi dalam kurun waktu sepuluh tahun Jepang telah berhasil bangkit dan bahkan lebih modern. Pada kurun waktu 1955 – 1964 Jepang mengalami lompatan ekonomi yang menakjubkan, sehingga intensitas penetrasi pasar bergerak dramatis menekan ke berbagai negara.
Salah satu faktor penting yang mempercapat gerakan pasar industri Jepang adalah munculnya kebijakan pemerintah yang menggerakkan sektor swasta yang berfungsi sebagai information clearing hous (bursa informasi). Kebijakan ini bertujuan untuk mensuplai berbagai data kepada para pebisnis particular (swasta), sehingga dapat menghapus tingkat ketergantungannya pada pemerintah. Hasilnya, kelompok bisnis partikular berdiri setingkat dengan pemerintah dan menjadi mitra yang baik.
Hal yang sama terjadi pada Jerman (Barat, saat itu). Kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II yang berakhir dengan pembelahan negara ini menjadi Barat dan Timur (sebelum reunifikasi pada tahun 90-an), dalam kurun relatif singkat membangitkan negara ini menjadi raksasa ekonomi dunia. Kemampuan Jerman mengolah data-data irformasi dunia, menghasilkan produk-produk teknologi berat dari negara Kanselir ini membanjiri pasar dunia. Penemuan teknologi Siemen dengan produk telpon selulernya tahun 80-an adalah salah satu puncak teknologi Jerman yang menguasai pasar komunikasi global, setelah negara ini menyebar informasi spektakuler melalui berbagai iklan di media massa yang belum pernah muncul sebelumnya.
*****
Begitulah keajaiban yang dibangun memalui jaringan informasi. Tidak ada sesuatu apa pun produk yang di hasilkan manusia dikenal luas, tanpa didahului oleh pembentukan informasi. Pengenalan manusia pada Tuhan, dimulai dengan turunnya wahyu (iformasi) bahwa di balik alam terdapat penggerak dan penguasa tunggal yang menjadi tumpuan hidup mereka. Ini berarti Tuhan pun memperkenalkan keberadaannya sebagai Dzat yang wajib diimani.
Dari sini kita memperoleh gembaran teoretik yang riil betapa pentingnya arti informasi bagi umat Islam. Membangun informasi berarti membangun relasi publik secara luas dan lintas antar negara dan bangsa, dan untuk mencapai tujuan ini diperlukan kemampuan mengolah data berikut segala perangkat lunak (software) yang diperlukan. Pasar hanya akan tertarik untuk membeli sebuah produk informasi (akses) jika produk yang ditawarkan memiliki daya tarik untuk di ikuti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar